Malam menghiasi langitBintang bertabur mengisi hatiPenuh kerinduan,Coba kau hitung,Bintang yang bertengger di langit,Itulah rasa rinduku,Padamu Namun, Dengan pongahnya, Bulan menahan bintang untuk Menampakkan sinarnya Dengan pongahnya, Ia menahan rindu yang kurasakan, Padamu. Baca Juga [PUISI] Ada Puisi Dinisi Nur Azisti Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Kaudatang dengan membawa nama yang rupawan, BULAN BIRU orang-orang mengatakan Tapi para astronom tidak pernah mengatakan kau muncul dengan kebiruan Itu hanyalah rakyat terdahulu yang memberi julukan Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Angin menggoyangkan daun jendela yang terbukaDi langit penuh gemerlap bintangBulan hanya satu, benderang di sanaDitemani banyak bintang yang tak terhitungBintang-bintang menenangkankuDan menghapus air mata yang bergelimang tersembunyi di hatiJangan terlalu bersedih dan terbawaBintang-bintang akan menghapus air mataku Meskipun lelah hingga tak sanggup melangkahMeskipun air mata mengaburkan arahkuSenyum tidak akan pernah kulepaskan dari wajahkuMeskipun kehangatan ini hanya ilusi yang kuciptakan Seperti banyaknya bintang yang tak dapat dihitungSebanyak itu misteri yang bersembunyi di hatiMencoba merangkainya dan jatuh ke dalam mimpiKebahagian palsu di sana, di mimpi yang tak bertepi Lihat Puisi Selengkapnya